AI News

Robot Humanoid Masuk Ujian Terberat: Bukan Salto, tapi Balik Modal

Unitree melantai di Shanghai saat industri robot humanoid diuji hal paling dasar: bisakah robot bekerja nyata dan balik modal dalam dua tahun?

PenulisBrowsex
Terbit18 AGU 2026
Waktu baca4 menit · 840 kata
Tagrobot / AI / Humanoid

Selama dua tahun robot humanoid China bikin heboh lewat video menari, bertinju, dan lari maraton. Pekan ini di Beijing, pertanyaannya berubah: bisa tidak robot-robot itu benar-benar bekerja dan menghasilkan uang?

BEIJING Industri robot humanoid sedang pindah panggung. Dari video viral, ke lantai pabrik.

World Robot Conference 2026 dibuka di Beijing pada 19–23 Agustus. Lebih dari 300 perusahaan hadir, memamerkan lebih dari 2.000 produk dan meluncurkan lebih dari 150 barang baru. Tapi yang jadi perhatian investor tahun ini bukan lagi robot mana yang gerakannya paling mulus, melainkan robot mana yang bisa kerja lama tanpa diawasi manusia, dan berapa lama biayanya kembali.

Pergeseran ini terjadi tepat ketika Unitree Robotics; produsen humanoid terbesar dunia berdasarkan volume penjualan, melantai di bursa Shanghai.

Unitree Melantai, Antrean Investor Mengular

Unitree resmi masuk STAR Market Bursa Shanghai pada 19 Agustus. Sahamnya dilepas di harga 150,80 yuan, mengumpulkan sekitar 6,1 miliar yuan atau setara US$905 juta, dengan valuasi perusahaan sekitar US$9 miliar.

Porsi ritel kelebihan permintaan lebih dari 8.000 kali - rekor baru untuk STAR Market, papan bursa teknologi yang sering disebut Nasdaq-nya China.

Unitree memang beda dari kebanyakan startup robotika: perusahaan asal Hangzhou ini sudah untung. Sepanjang 2025 ia mengirim sekitar 5.500 robot humanoid, dan pendirinya Wang Xingxing menargetkan 10.000–20.000 unit untuk tahun ini.

Tapi ada catatan yang jarang disorot. Lebih dari 70 persen humanoid yang Unitree jual tahun lalu dibeli untuk keperluan riset dan pendidikan; bukan untuk bekerja di pabrik atau gudang.

Ini persis masalah yang sedang dihadapi seluruh industri.

Sebagian Besar Robot Belum Benar-Benar Bekerja

Georg Stieler, analis robotika yang menjadi konsultan bagi perusahaan-perusahaan industri di China, memperkirakan 50 sampai 70 persen robot humanoid yang diproduksi tahun ini akan berakhir di "data factory" — fasilitas tempat robot dioperasikan untuk mengumpulkan data pelatihan AI, bukan untuk mengerjakan pekerjaan berbayar milik pelanggan.

Artinya, sebagian besar robot yang diproduksi hari ini masih jadi murid, belum jadi pekerja.

Soal biaya juga belum selesai. Broker China Guotai Securities menghitung, sebuah humanoid industri idealnya berharga sekitar 160.000 yuan termasuk perawatan, supaya modalnya kembali dalam dua tahun jika dibandingkan pekerja bergaji 80.000 yuan per tahun.

Kenyataannya? Menurut lembaga think tank Jerman MERICS, robot semacam itu sekarang dijual di kisaran 300.000 sampai 500.000 yuan. Dua sampai tiga kali lipat dari titik impas.

Selisih inilah yang akan membunuh banyak perusahaan. Yu Chao, CEO Lumos Robotics — startup yang didukung Mitsubishi Electric dan memilih fokus ke inspeksi industri ketimbang hiburan — menilai perusahaan paling berisiko adalah yang mengembangkan badan robot, model AI, atau data secara terpisah tanpa pernah membuktikannya di aplikasi nyata. Yang gagal menciptakan nilai buat pelanggan, katanya, akan tersapu keluar.

Lomba yang Menirukan Pekerjaan Pabrik

Ujiannya dimulai akhir pekan ini.

World Humanoid Robot Games digelar 22–26 Agustus di National Speed Skating Oval, Beijing. Selain lari, sepak bola, dan pertarungan, ada kategori baru yang dirancang menyerupai pekerjaan sungguhan: pengemasan dan pergudangan, perakitan industri, pelayanan ritel dan perkantoran, pengisian daya kendaraan listrik, sampai tugas halus seperti menyambung kabel dan memakai perkakas.

Panitia mewajibkan robot mengerjakan tugas secara terus-menerus dalam waktu lama di lingkungan yang berantakan.

Ini jauh lebih sulit daripada koreografi. Robot harus mengenali benda yang posisinya berubah-ubah, memegangnya berulang kali, memperbaiki kesalahan sendiri, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa insinyur ikut turun tangan.

Barat Memilih Jalan yang Lebih Sabar

Di luar China, pendekatannya lebih terarah: pilih satu pekerjaan, buktikan hitungannya.

Hyundai akan menurunkan robot Atlas buatan Boston Dynamics di pabrik Metaplant di Georgia, Amerika Serikat, mulai 2028. Tugas awalnya sederhana — menyiapkan dan mengurutkan komponen — sebelum masuk ke perakitan yang lebih rumit sekitar 2030. Grup ini menargetkan kapasitas produksi 30.000 unit per tahun dan penempatan lebih dari 25.000 robot di pabrik Hyundai dan Kia.

Toyota Motor Manufacturing Canada memilih jalan sewa. Setelah uji coba setahun, perusahaan resmi mengontrak tujuh robot Digit dari Agility Robotics untuk pabrik RAV4 di Woodstock, Ontario, dengan skema robots-as-a-service. Tugasnya: membongkar tote berisi komponen dari kereta gudang otomatis. Tidak spektakuler, tapi masuk jalur produksi sungguhan.

Apptronik menutup pendanaan tambahan US$520 juta pada Februari 2026 dengan dukungan Google dan Mercedes-Benz, membawa total Seri A-nya ke atas US$935 juta. Robot Apollo miliknya sudah dipakai Mercedes-Benz, GXO Logistics, dan Jabil.

Skema sewa seperti yang dipilih Toyota mungkin jadi jalan tengah paling realistis: perusahaan bisa memakai robot tanpa menanggung risiko pembelian di depan.

Politik Ikut Masuk ke Lantai Pabrik

Satu variabel baru muncul Juli lalu. Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) membatasi otorisasi perangkat baru untuk peralatan robotik canggih buatan luar negeri, termasuk produk Unitree. Model yang sudah terotorisasi masih boleh dijual.

Dampaknya bisa besar. Lembaga riset IDC memperkirakan China menguasai 82 persen pengiriman humanoid global. Dalam skenario terburuk akibat pembatasan itu, penjualan humanoid di pasar AS bisa 58 persen di bawah proyeksi dasar IDC pada 2030.

Jadi selain harus membuktikan diri secara teknis dan ekonomis, robot humanoid China kini juga harus melewati pintu regulasi.

Babak Berikutnya

Pemenang lomba ini kemungkinan bukan yang robotnya paling cepat atau paling mirip manusia. Yang menang adalah yang robotnya cukup pintar, cukup bisa diandalkan, dan cukup murah untuk mengerjakan pekerjaan nyata

Setelah beberapa tahun AI tumbuh di dunia digital lewat chatbot dan generator gambar, tahap berikutnya membawa kecerdasan itu ke mesin yang berinteraksi langsung dengan dunia fisik.

Tapi untuk benar-benar masuk pabrik, gudang, dan rumah, robot AI harus lulus ujian yang jauh lebih berat daripada video viral: membuktikan bahwa dirinya layak dibayar.